Merintis Karier sebagai Penerjemah (Bag. 1)

Pengantar

Sebagian besar sajian ini disarikan dari dua kuliah daring yang telah saya sampaikan — yang pertama untuk mahasiswa-mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM), dan yang kedua merupakan kuliah umum, diselenggarakan oleh Prodi Sastra Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Benang merah yang menghubungkan keduanya adalah adanya ketertarikan mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum terhadap apa yang sebenarnya dilakukan oleh mereka yang menyebut diri penerjemah: bagaimana mereka memulai karier, apa saja yang mereka lakukan ketika menjalankan tugas, dan apa yang perlu mereka lakukan untuk meningkatkan kemampuan dan memperluas eksposur. Ketertarikan ini bisa dilihat pula dari begitu banyaknya kuliah (daring) serupa yang diselenggarakan oleh berbagai pihak, khususnya di lingkar akademis. Dua kuliah yang melibatkan saya hanyalah contoh kecil.

Kuliah tertutup saya untuk mahasiswa-mahasiswa Sastra Inggris UGM — adik-adik kelas saya — di awal tahun 2021 lalu berangkat dari keinginan dosen pengampu mata kuliah Introduction to Translation Studies untuk memperkenalkan dunia penerjemahan di luar teori-teori yang mereka pelajari. Sementara itu, dosen UIN Sunan Kalijaga yang menjadi koordinator kuliah terbuka di awal November 2021 lalu melihat minat besar para mahasiswanya terhadap penerjemahan sebagai ranah pilihan karier. Lewat acara tersebut, ia berupaya mendobrak pandangan kaku bahwa lulusan sastra memiliki sedikit sekali pilihan pekerjaan, dan itu tentu jauh dari kenyataan. Pilihan untuk menekuni bahasa dan sastra bisa jadi cuma celah bagi terbukanya pintu-pintu kesempatan yang lebih banyak dan lebih luas, sebagaimana dengan berbekal bahasa Inggris saya sempat menjadi “tukang kebun” untuk seorang ekspat di Bali demi mendalami ilmu sustainability, menjadi travel blogger sehingga diundang ke berbagai tujuan wisata domestik dan luar negeri, menjadi wartawan surat kabar berbahasa Inggris guna memahami seluk-beluk dunia tersebut berikut ragam bahasanya, serta terlibat dalam kerja-kerja industri kreatif seperti film dan iklan.

Berbagai feedback yang saya terima seusai kedua acara mendorong saya untuk menyajikan tulisan ini. Saya ingin menyampaikan berbagai poin yang saya anggap penting bagi mereka yang ingin merintis karier sebagai penerjemah (saya sengaja tidak membahas profesi interpreter atau juru bahasa karena memang tidak menekuninya). Tulisan ini dibubuhi pengalaman pribadi dan beragam kisah rekan-rekan seprofesi. Per hari ini, saya memang telah menerjemahkan selama lebih dari 16 tahun. Akan tetapi, telah saya sampaikan di berbagai kesempatan bahwa saya saya baru berani menyebut diri seorang penerjemah dalam tiga tahun terakhir, setelah saya tahu ada yang namanya industri penerjemahan.

Industri Penerjemahan

Dulu saya tidak tahu tarif penerjemahan rata-rata untuk dalam dan luar negeri; tidak tahu bahwa ada agensi-agensi penerjemahan atau language service providers (LSPs); tidak tahu ada begitu banyak komunitas penerjemah di dalam maupun di luar negeri; juga belum pernah mendengar ada yang namanya Computer Assisted Translation Tools alias CAT Tools. Localization dan transcreation? Apa pula itu? Saya bahkan tadinya tidak tahu bahwa Translation Studies adalah satu prodi tersendiri di berbagai kampus. Saya dulu tak menyadari bahwa Pemerintah Indonesia memiliki sekumpulan penerjemah dan juru bahasa kabinet. Sebelum dua tahun lalu, meski saya sudah sering menerjemahkan, pengetahuan saya soal industri penerjemahan bisa dikatakan nol besar.

Saya mulai mengintip industri penerjemahan setelah bertemu kembali dengan seorang kawan lama; kami satu angkatan di Sastra Inggris UGM dulu. Dia bercerita, dia pernah menjadi penerjemah untuk satu agensi di Jogja sebelum bekerja untuk agensi Singapura. Akhirnya, dengan segenap pengalamannya, dia pun cukup percaya diri untuk menjadi penerjemah freelance dan menerima proyek-proyek dari direct clients atau klien langsung, artinya tidak lagi lewat agensi. Dia bahkan terlibat dalam proyek pelokalan Facebook, serta telah melokalkan berbagai games.

Di awal 2020 lalu, ketika belum ada wacana lockdown, kawan tadi, saya, dan satu penerjemah lain yang sudah malang-melintang di industri penerjemahan berinisiatif mengadakan suatu acara temu penerjemah yang kami beri tajuk Sesi Beragih Penerjemah. Acara ini sempat terselenggara sampai tiga kali, dihadiri oleh banyak penerjemah dengan berbagai macam spesialisasi, termasuk mereka yang bekerja untuk agensi-agensi besar. Sesi beragih ini sempat pula menghadirkan seorang penerjemah ahli madya sekretariat kabinet yang bicara tentang pembekalan teori bagi penerjemah. Akhirnya, pada bulan Maret tahun lalu, pandemi sudah benar-benar menyebar ke seluruh dunia dan lockdown diberlakukan di mana-mana. Sesi Beragih Penerjemah pun dihentikan. Namun, dari tiga kali acara tersebut saya sudah menangkap bagaimana dunia penerjemahan ini adalah sebuah industri yang benar-benar hidup, benar-benar dinamis, dan benar-benar dibutuhkan. Selama pandemi, sebagian penerjemah justru mengalami peningkatan proyek, karena ada kebutuhan khusus di beberapa bidang, antara lain medis, media massa, dan hukum. Saya mendengar banyak pula juru bahasa yang laris manis dipakai jasanya untuk pertemuan-pertemuan online lewat Zoom dan semacamnya. Bahkan, dalam Koran Sindo edisi Weekend tanggal 26 Desember 2020, dalam artikel berjudul “Pekerjaan Favorit Masa Depan”, penerjemah masuk sebagai salah satu profesi idaman.

Tahun 2020 — tahun pandemi — bisa dibilang merupakan tahun ketika saya justru paling banyak belajar tentang industri penerjemahan. Selain ketiga Sesi Beragih Penerjemah yang turut saya gawangi, ada satu kegiatan lain yang membantu saya menenun jejaring dengan orang-orang yang telah cukup lama berkecimpung di industri penerjemahan. Pada April 2020, muncul gerakan global menerjemahkan teks-teks open source terkait cara membuat personal protective equipment untuk mengatasi COVID-19, termasuk di Indonesia. Saya bergabung dengan kelompok yang kemudian memilih nama Medis Mandiri, dan saya memegang posisi lead editor. Puluhan orang dalam kelompok ini, yang sebagian besar direkrut lewat grup Facebook Himpunan Penerjemah Indonesia, bersama-sama menerjemahkan teks-teks dan desain-desain open source, mulai dari cara membuat masker, hand sanitizer, jubah pelindung, perisai muka, cara menyambung serta menyegel jubah pelindung, dan lain sebagainya.

Arti Penting Jejaring

Pengalaman saya dengan Medis Mandiri teramat berharga. Saya membuktikan sendiri betapa besar manfaatnya berjejaring dengan penerjemah-penerjemah lain. Kami bekerja selama berbulan-bulan dan menjadi dekat meski terpisahkan jarak. Terkadang, sebagian dari kami akhirnya malah saling lempar proyek. Ketika penerjemah yang satu sedang banjir job, atau ditawari proyek yang tidak cocok dengan spesialisasinya, dia pun tak ragu-ragu berbagi proyek dengan orang-orang yang sudah dia ketahui kapasitasnya dan punya hubungan emosional yang cukup erat lewat pengalaman susah senang yang dijalani bersama.

Berita tentang penerjemahan open source ini bermula di sebuah Facebook Group suatu portal penerjemah yang paling terkenal, yakni ProZ.com. Sebagai lead editor, saya harus sering berkomunikasi dengan penerjemah yang memegang posisi project manager. Kami sering berkomunikasi pula dengan lingkaran yang lebih luas — lingkar internasional — salah satunya dengan admin grup ProZ.com yang bernama Andrew Morris. Setelah sekian lama kami berkomunikasi, Adrew lantas menawari saya dua kali wawancara. Hasil wawancara tersebut dimuat di akun-akun media sosial dan di terbitan bulanan ProZ.com. Dari situ, makin luaslah exposure untuk nama saya sebagai penerjemah Indonesia, hingga saya pun dihubungi oleh organisasi-organisasi internasional untuk berbagai kebutuhan penerjemahan mereka, dan dibayar, tentunya.

Kini, setelah melewati serangkaian pengalaman dalam waktu yang relatif singkat tadi, saya termotivasi berbagi kiat dengan para penerjemah pemula yang ingin mengumpulkan pengalaman. Ada banyak organisasi yang membutuhkan penerjemah sukarela. Translators Without Borders, misalnya, yang bertujuan menjembatani komunikasi beda bahasa berbagai upaya kemanusiaan di seluruh dunia. Ada penerjemah-penerjemah yang bekerja sukarela menyajikan takarir atau subtitle untuk video-video TedX, atau video-video ceramah keagamaan. Jika Anda sudah terpikir ingin menjajal spesialisasi tertentu, tinggal disesuaikan saja. Ingin fokus di bidang lingkungan hidup? Coba tawarkan jasa Anda menerjemahkan secara sukarela ke organisasi-organisasi seperti Greenpeace, Mongabay, atau Walhi. Mau fokus di bidang hukum? Coba cari kesempatan magang di lembaga-lembaga bantuan hukum di kota-kota besar di Indonesia. Dan lain sebagainya. Jangan malas mencari kesempatan — internet sudah membuka begitu banyak pintu.

Bersambung ke Bagian 2

2 responses to “Merintis Karier sebagai Penerjemah (Bag. 1)

  1. Pingback: Merintis Karier sebagai Penerjemah (Bag. 2) | Bekabuluh·

  2. Pingback: Merintis Karier sebagai Penerjemah (Tamat) | Bekabuluh·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s