Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Tamat)

Untuk membaca secara runtut, baca Bagian 1, Bagian 2, dan Bagian 3.

Alur Kerja dan Alur Proses

Bagaimana alur kerja seorang penerjemah akademik? Jawabannya tentu berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Saya biasa langsung mengedit bagian demi bagian dalam naskah asli sambil menerjemahkan. Ini bisa dibilang penyuntingan tahap pertama, yaitu proses edit naskah asli yang berlangsung di kepala saya ketika menerjemahkan — kita sebut saja flash editing. Yang terpenting dalam flash editing ini adalah memerhatikan apakah semua pesan yang terdapat dalam naskah asli sudah tertuang dalam terjemahan atau belum. Jika belum, maka saya harus memutuskan apakah seluruh pesan harus ada dalam satu kalimat, ataukah saya pecah ke dalam dua atau lebih subkalimat, atau saya jadikan kalimat baru. Akan tetapi, tahap yang kompleks ini sesungguhnya adalah tahap kesekian dalam workflow yang merupakan bagian dari process flow.

Bagi saya, workflow adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu tugas, dan workflow merupakan bagian dari process flow, yaitu tahapan-tahapan dalam beberapa kategori yang perlu dilalui untuk mencapai satu target atau lebih. Dalam konteks ini, workflow dilakukan untuk menyelesaikan tugas menerjemahkan atau mengedit teks akademik, sedangkan target dari process flow, selain menghasilkan teks akademik layak terbit, adalah memperoleh pemasukan sekaligus memperkaya pengetahuan dan pengalaman yang nantinya tercermin dalam CV atau resume demi mempertegas posisi sebagai seorang penerjemah akademik andal.

Slide di atas menunjukkan tahap-tahap yang biasanya saya lalui dalam menjalankan tugas dan demi mencapai target. Penerjemah-penerjemah akademik lain barangkali mengadopsi tahap-tahap yang berbeda, dan tahap-tahap di atas pun bagi saya sering kali tumpang-tindih dalam praktiknya.

Bisa dilihat, sebagai bagian dari workflow, terdapat tiga tahap krusial, yakni:

Translate, which includes flash editing, consultation with reference docs., and making comments for follow-up by author;

Re-read translation, conduct more editing, and smooth out rough edges;

Make changes according to comments’ replies (if any).

Slide di atas mencontohkan bagaimana saya memaksimalkan fitur New Comment pada menu Review di Microsoft Word. Fitur ini sangat membantu saya dalam melakukan komunikasi dengan penulis atau client, tidak hanya untuk academic translation, tetapi juga penerjemahan-penerjemahan jenis lain. Jika ada bagian-bagian yang janggal dalam teks asli, saya buatkan comments. Setelah saya memasukkan tambahan-tambahan atau perubahan-perubahan yang menurut saya dibutuhkan agar terjemahan lebih lancar terbaca, saya buatkan pula comments agar client menyadari tambahan-tambahan dan perubahan-perubahan tersebut. Atau jika saya merasa penulislah yang perlu mengambil keputusan untuk menambahkan, mengubah, atau menghilangkan sesuatu, maka saya buatkan juga comment­s berikut instruksi agar penulis dapat melakukannya sendiri (biasanya saya menyajikan alternatif tambahan atau perubahan yang diperlukan di bagian comment yang relevan). Proses pencantuman comments saya lakukan sambil jalan, supaya tidak ada yang terlewat.

Saya tegaskan kembali: To be a good academic translator, you have to master the conventions of academic or scientific writing. Apa iya seorang penerjemah akan pede memberikan catatan-catatan perbaikan seperti pada contoh tanpa tahu seluk-beluk, sudut-sudut, dan celah-celah penulisan akademis? Dengan kata lain, jika tak paham kekurangan-kekurangan teksnya, lantas saran-saran perbaikan seperti apa yang mau disampaikan? So, again: Be proficient in the source language, be proficient in the target language, be a good writer, dan banyak-banyaklah mempelajari, mencerap, memahami, dan berlatih menerapkan berbagai konvensi atau standar yang berlaku di ranah penerbitan scientific articles.

And always, always be curious. Hal ini sangat berguna ketika Anda menggarap terjemahan dengan topik-topik baru.

Seorang teman baik pernah bilang, “Aku tuh takut ngasih saran-saran perubahan ke client-ku yang satu ini, soalnya dia udah profesor, tapi setelah aku cek, aku nemuin kesalahan-kesalahan di data yang dia tulis.” Saya katakan, “Well, when you’re wrong, you’re wrong… and when you’re right, you’re right. Do the right thing, point out the mistakes, and your client might just be thankful for that. If not, then that’s their problem.”

Yang dilakukan teman saya itu, yakni mengecek sana-sini untuk memastikan bahwa memang terdapat kesalahan, merupakan sikap yang hanya dimiliki oleh penerjemah-penerjemah dengan curiousity tinggi. Di sisi lain, penerjemah yang sekadar menerjemahkan tanpa melihat konteks, atau tanpa berusaha mencari tahu frasa-frasa atau terminologi yang tepat, barangkali akan merasa puas hanya dengan sedikit memoles apa yang disajikan oleh Google Translate di tahap awal penerjemahan, misalnya.

Merengkuh Perkembangan Teknologi

Setelah menyinggung masalah penggunaan Google Translate dan fitur “New Comment” pada Microsoft Word, kita bahas sekilas perkembangan teknologi yang telah dan terus terjadi di dunia penerjemahan. Ada begitu banyak tools dan features yang kini tersedia bagi penerjemah dan aktor-aktor lain di industri penerjemahan untuk meringankan dan mempercepat tugasnya.

Yang pertama — obviously — adalah internet yang dewasa ini menyajikan resources yang seolah tidak ada habisnya. Silakan kunjungi kembali Bagian 3 untuk melihat beberapa online resources yang telah saya sajikan pada salah satu slide.

Selain itu, terdapat beberapa situs web yang dapat membantu kita mengecek terminologi bidang-bidang tertentu. Pada slide di atas, saya berikan contoh Microsoft Language Portal untuk istilah-istilah bidang IT, serta ProZ dan Kateglo untuk terminologi di berbagai bidang. Sebagai catatan tambahan, para penerjemah kawakan tentu sudah mafhum bahwa setelah membaca artikel-artikel jurnal yang relevan untuk menemukan berbagai istilah khusus, penerjemah perlu mengumpulkan glossaries-nya sendiri serta memiliki kamus untuk bidang-bidang yang spesifik. Penerjemah bidang hukum — atau penerjemah akademik bidang hukum — menyimpan glosarium dan kamus-kamus bidang hukumnya sendiri. Demikian pula penerjemah bidang politik, ilmu-ilmu alam, dan lain sebagainya. Jika ada istilah khusus atau baru yang belum tercantum dalam kamus-kamus tersebut, penerjemah dapat mengunjungi situs-situs web dari asosiasi-asosiasi yang relevan, yang menyajikan informasi dan data di bidang tertentu, untuk lantas memasukkannya ke dalam glosarium yang telah ia susun.

Sebagai penerjemah, saya sudah menjajal berbagai Computer Assisted Translation Tools atau CAT Tools seperti Memsource, WordBee Translator, Smartcat, dan MemoQ. CAT Tools bukanlah machine translation tools seperti Google Translate, Microsoft Translator, DeepL Translator, Systran Translate, dan lain sebagainya. Akan tetapi, machine translation tools dapat diintegrasikan ke CAT Tools.

Ketika Anda mengimpor file ke dalam satu CAT Tool, sistemnya akan memecah teks dalam berkas tersebut menjadi segmen-segmen yang biasanya berupa kalimat demi kalimat, sehingga pengguna dapat fokus pada penerjemahan tiap segmen. Di antara manfaat terbesar CAT Tools adalah kemampuannya untuk menyimpan Translation Memory serta Term Base. Dengan Translation Memory, penerjemah dapat menggunakan rangkaian-rangkaian teks yang sama atau mirip yang sudah diterjemahkan sebelumnya, sementara dengan Term Base, glosarium yang sudah dikumpulkan dapat lebih mudah diakses sebagai referensi. Dengan demikian, kedua fitur ini bisa diandalkan untuk meringankan dan mempercepat proses penerjemahan. Selain itu, CAT Tools juga memiliki fitur comments yang dapat diekspor bersama hasil terjemahan ke Microsoft Word. Dengan begitu, penerjemah yang biasa membubuhkan comments yang perlu di-follow up oleh client dapat melakukannya di CAT Tool pilihan.

Masih banyak kegunaan dari tools penerjemahan semacam ini — saya tidak mungkin menjelaskannya satu per satu. Anda yang baru tahu dan ingin mencoba bisa belajar menggunakan CAT Tool gratis seperti Smartcat; sifatnya web-based, sehingga Anda dapat langsung mendaftar ke website-nya.

Setelah selesai menerjemahkan dan Anda ingin mengedit atau melakukan proofreading dengan bantuan Quality Assurance Tools, terdapat begitu banyak pilihan. Ada yang berupa add-on seperti Writefull, dan ada yang bisa ditemukan online seperti Wordtune, Quillbot, Hemmingway Editor, dan Grammarly. Ada pula layanan online untuk penulisan citation sesuai style guide tertentu, misalnya dengan memanfaatkan situs Scribbr. Selain itu, untuk mengecek kemungkinan plagiarisme, Anda dapat mengunjungi situs-situs seperti Plagiarismchecker.co.

Terakhir, saya ingin menambahkan satu poin yang mengikat seluruh poin yang sudah saya sampaikan. Setelah kita mengetahui betapa menulis dan menerjemahkan teks akademik atau artikel ilmiah membutuhkan penguasaan akan ragam bahasa tertentu, pemahaman akan konvensi atau standar tertentu, serta mengharuskan kita untuk menerapkan alur kerja dan alur proses sesuai kebutuhan, maka bisa disimpulkan bahwa seorang penerjemah akademik harus berupaya untuk menjadi pribadi yang organized. Penerjemah itu — khususnya penerjemah akademik — terstruktur pola berpikirnya dan disiplin dalam bekerja. Saya harap tampilan slide penutup di bawah ini dapat sedikit menggambarkan bagaimana saya selalu mencoba untuk menata kerja-kerja penerjemahan saya.

Pada akhirnya, saya berani mengatakan bahwa ketika penerjemah telah menyusun sistem kerjanya sendiri, segala sesuatunya menjadi lebih mudah dikelola, lebih cepat diselesaikan, dan hasilnya pun akan lebih memuaskan — insya-Allah.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s