Merintis Karier sebagai Penerjemah (Tamat)

Untuk membaca tulisan ini secara runtut, buka Bagian 1 dan Bagian 2.

Penerjemah Handal = Penulis Handal

Terkait pembekalan, hal lain yang harus disadari oleh seorang calon penerjemah adalah aturan umum bahwasanya untuk menjadi penerjemah yang baik, Anda harus menjadi penulis yang baik (ini mencakup kemampuan editing dan proofreading). Anda bisa saja mengetahui semua padanan istilah dan frasa dalam bahasa target, tetapi apabila Anda tidak mampu menyusunnya secara jelas, padat, dan menarik, hasil terjemahan Anda mustahil disebut berhasil. Saya tidak bilang Anda harus menjadi penulis yang karyanya sudah dipublikasikan di mana-mana. Maksud saya, ketika Anda menerjemahkan, Anda toh sedang menulis juga, dan apalah artinya memindahkan isi pesan dari satu bahasa ke dalam bahasa lain jika hasilnya tidak atau sulit dipahami oleh mereka yang akan membaca hasil terjemahan tersebut.

Hasil terjemahan bisa jadi sulit dipahami karena seorang penerjemah, misalnya, kurang paham di mana sepatutnya meletakkan subjek, objek, dan predikat; kurang paham mana induk kalimat dan mana anak  kalimat; tidak menguasai aturan penggunaan kata sambung; atau kurang paham kapan harus menggunakan tanda baca yang satu dan bukan yang lain. Selain itu, ia mungkin belum berani memotong-motong, menggabungkan, atau memindahkan frasa, kalimat, hingga paragraf agar lebih mudah dicerna; atau kurang paham apakah suatu frasa bermakna harfiah atau idiomatis. Hal-hal tersebut masih berada pada tataran umum penulisan teks. Kita belum bicara soal, misalnya, ketika Anda menerjemahkan artikel akademis yang sarat aturan. Apakah si penulis sudah menerapkan aturan yang baku tentang cara mengutip sesuai gaya selingkung (style guide)? Apakah kutipannya boleh langsung dituliskan di dalam paragraf, ataukah harus dipisah sebagai block citation? Apakah si penulis sudah memparafrasa suatu kutipan dengan benar, ataukah kata-katanya masih terlalu mirip dengan teks dalam karya sumber sehingga berisiko dicap memplagiat? Kemudian, ketika menemukan kutipan-kutipan yang berpotensi dicap memplagiat, apa yang harus Anda lakukan selaku penerjemah? Anda biarkan karena memperbaikinya bukan tugas Anda, atau Anda berbaik hati memberitahu si penulis untuk melakukan penyesuaian? Dapatkah Anda menilai bahwa gaya tulis artikel yang ini terlalu informal, atau yang itu malah terlalu naif, entah karena kekurangan bukti pendukung atau karena kekurangan referensi? Bagaimana memperbaikinya? Atau, perlukah memperbaikinya? Empat pertanyaan terakhir mungkin lebih pas jika dibahas panjang lebar di posting lain. We’ll see

Untuk  menguasai berbagai aturan umum penulisan dalam bahasa Indonesia, Anda bisa memulainya dengan mengkhatamkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Sementara itu, terkait gaya selingkung dalam bahasa Inggris, tak ada salahnya mempelajari style guides American Psychological Association (APA) atau Modern Language Association (MLA) sebagai langkah awal. Untuk berlatih menerjemahkan teks dari bidang-bidang lain, terutama sastra, Anda dapat mengunjungi blog-blog para penerjemah Indonesia lain yang berisi berbagai tips dan latihan. Melody Violine dalam satu tulisan di blognya berbagi tips bagi mereka yang ingin menjadi penerjemah buku. Satu bagian dari blog almarhumah Dina Begum menyajikan sederet contoh terjemahan dan suntingan terjemahan novel. Dua blog Femmy Syahrani — yang ini dan yang ini — menawarkan latihan terjemahan cuplikan karya sastra berikut penyuntingannya. Ada pula Rini Nurul Badariah dengan blognya yang sarat contoh terjemahan.

Untuk melakukan editing dan proofreading, saya cukup sering memanfaatkan layanan gratis dari Grammarly, terutama ketika dikejar tenggat.

Terus Belajar

Bagi calon penerjemah atau penerjemah pemula, terus belajar adalah kewajiban. Akan tetapi, memberi saran kepada mereka yang sudah cukup lama menerjemahkan untuk terus belajar itu lewah alias redundant. Sebab, mempelajari hal-hal baru terkait topik teks yang sedang diterjemahkan adalah bagian dari profesi ini — riset, istilah gampangnya. Ketika menerjemahkan teks akademis, misalnya, saya harus siap mencari dan membaca kilat beberapa referensi yang sesuai demi memastikan bahwa istilah-istilah yang digunakan dalam teks target sudah sesuai dengan teks asli. Kadangkala, istilah-istilah yang digunakan dalam teks asli justru salah atau ambigu, dan penerjemah harus memiliki mata yang tajam atau “radar” yang awas untuk sigap menyadarinya.

Contoh lain, karena sebagian besar teks marketing yang saya terjemahkan digunakan dalam pemasaran berbagai aplikasi dan games, tak jarang saya harus membuka video-video YouTube untuk melihat cara kerja aplikasi dan cara memainkan games tersebut. Untuk menerjemahkan satu situs web tentang perikanan, saya sempat berkonsultasi dengan pakar bidang tersebut dari satu lembaga swadaya masyarakat, juga seseorang yang hobi memancing, demi menyeimbangkan penggunaan istilah-istilah resmi dan istilah-istilah yang umum digunakan di kalangan pemancing/nelayan. Sebagai mantan wartawan, saya memahami betul bahwa jejaring seorang penerjemah perlu diperluas dari lingkar linguis ke berbagai lingkar kepakaran di aneka bidang guna merasakan manfaat dari kesediaan untuk terus belajar.

Mesin Terjemahan & Teknologi Baru Lainnya

Masih berhubungan dengan semangat belajar, dewasa ini, penerjemah perlu mengenali dan merengkuh teknologi-teknologi baru dalam industri penerjemahan. Neural machine translation adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari, bahkan banyak agensi yang menawarkan job MTPE atau Machine Translation Post-Editing. Yang dapat kita upayakan adalah terus mengasah kemampuan kreatif dalam menerjemahkan — atau mengedit hasil terjemahan mesin — agar taktergantikan. Mesin hanya akan menggantikan penerjemah yang menerjemahkan layaknya mesin. Bagi saya, ya, tidak apa-apa kalau mau menggunakan Google Translate di awal proses penerjemahan. Manfaatkanlah selama Anda tidak menganggapnya sebagai hasil akhir. Jika Anda sampai tega menganggap hasil terjemahan mesin sebagai karya final, Anda bukan penerjemah, melainkan nyaris setara dengan operator mesin fotokopi.

Sebagai contoh kecil bagaimana saya memanfaatkan Google Translate bukan sebagai sarana utama, melainkan sebagai pemicu atau pemantik kosakata yang dibutuhkan untuk menghasilkan terjemahan yang layak, pas, hingga indah, di bawah saya sajikan tujuh salindia dari satu posting saya di Instagram dan LinkedIn. Silakan pelajari proses penerjemahan saya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia untuk teks kuratorial pameran The Shape of Thought (Gatra Angan) yang menampilkan karya-karya seniman kontemporer Rusia bernama Kira Degree ini. Tip: Gunakan kamus tesaurus fisik dan kamus tesaurus digital semaksimal mungkin.

Untuk penerjemahan akademis, Google Translate bisa lebih membantu lagi. Namun, syaratnya, teks sumbernya harus sudah bagus. Job penerjemahan artikel ilmiah yang saya terima hampir selalu dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Apabila teks artikel ilmiah berbahasa Indonesianya sudah ditulis dengan baik, atau katakanlah Anda sebagai penerjemah sudah memparafrasa kalimat-kalimat yang amburadul menjadi lebih enak dibaca, maka hasil terjemahan Google Translate-nya — tingkat keakuratannya — biasanya tergolong tinggi.

Keingintahuan pernah mendorong saya untuk belajar menggunakan program subtitling. Dua aplikasi gratis untuk PC yang luas digunakan di dunia pertakariran adalah Aegisub dan Subtitle Edit. Untuk mempelajari gaya selingkung dalam subtitling, Anda dapat mengunduh The Netflix Timed Text Style Guide dengan cara mencarinya di Google dengan kata kunci “Netflix Timed Text Style Guide [English/Indonesia]”, atau cari “Stagetext subtitle training” untuk menemukan video-video pelatihan subtitling digital gratis di YouTube. Untuk latihan, sebagaimana telah saya sampaikan di Bagian 1, Anda dapat melakukan transkripsi atau subtitling untuk video-video TED secara sukarela. Untuk mendaftar, klik di sini.

Sebagai seorang penerjemah, saya sudah menjajal berbagai Computer Assisted Translation Tools atau CAT Tools, antara lain Memsource, WordBee Translator, Smartcat, dan MemoQ. Alat-alat ini membantu proses penerjemahan dengan mengonversi dan memecah teks sumber menjadi segmen-segmen sehingga penerjemah tidak perlu pusing soal format. CAT Tools juga memindai istilah-istilah yang sering digunakan serta berbagai frasa dan kalimat yang berulang, kemudian menyimpannya agar penerjemah dapat terus menggunakannya di proyek yang sama atau untuk proyek-proyek berikutnya. Alat-alat ini sering dimanfaatkan untuk proses penerjemahan kolaboratif, baik oleh beberapa penerjemah sekaligus atau ketika melibatkan editor atau reviewer, sehingga agensi-agensi penerjemahan biasanya memiliki CAT Tool andalannya sendiri. Untuk berlatih menggunakannya, ada beberapa CAT Tools gratis yang dapat Anda manfaatkan.

Be Organized

Ini hal terakhir yang perlu saya sampaikan kepada para calon penerjemah dan penerjemah pemula: Buat sistem khusus agar semua proyek penerjemahan yang pernah, sedang, dan akan Anda kerjakan tertata rapi, termasuk untuk penyimpanan invois. Lakukan backup dengan memanfaatkan cloud storage seperti Google Drive atau Microsoft OneDrive. Permudah akses ke situs-situs web yang menjadi sumber daya Anda dengan menyusunnya sesuai tingkat pemakaian sebagai bookmarks pada peramban web. Manfaatkan fitur label pada layanan email yang Anda gunakan untuk menandai klien-klien tetap. Tandai kalender, kertas maupun digital, untuk setiap tenggat proyek. You get the gist… Segala upaya yang Anda terapkan untuk menjadi lebih teratur akan turut membentuk profesionalitas Anda sebagai seorang penerjemah.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s