Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 2)

lanjutan Bagian 1

Tantangan dan Peluang

Ketika menerima proyek penerjemahan yang mengharuskan teks disusun mengikuti style guide tertentu, penerjemah harus menguasai gaya selingkung tersebut dengan mempelajarinya lewat buku atau berkas panduan, atau dengan membaca laman web tertentu. Idealnya, penulislah yang sudah menyusun artikelnya sesuai style guide yang diminta. Kenyataannya, tugas ini sering kali dibebankan kepada penerjemah. Hal ini bisa disiasati dengan memasang tarif yang cukup tinggi. Ini suatu opportunity — peluang — bagi penerjemah untuk menawarkan kelebihan-kelebihan yang ia miliki.

Seorang penerjemah freelance yang sudah biasa menjalankan strategi marketing-nya sendiri bisa berkata, “Sebagai penerjemah dengan kemampuan linguistik yang mumpuni, saya teliti dalam memperhatikan hal-hal teknis seperti formatting, citations, sampai urusan tanda baca. Selain mampu menghasilkan terjemahan yang rapi, saya siap bekerja sama dengan Anda untuk menghadirkan authorial voice berkelas expert. Saya sudah menerjemahkan [sekian] artikel yang berhasil tembus ke [sekian] jurnal internasional. Dengan menggunakan jasa saya, maka Anda sedang berinvestasi untuk karier Anda — untuk profesi dan jenjang jabatan fungsional Anda sebagai dosen, calon guru besar, atau peneliti. Investasi ini tentu sepadan dengan tarif [sekian] juta rupiah yang Anda keluarkan untuk penerjemahan teks ini.”

Pada tahun 2018, dalam hasil penelitian bertajuk “Rejection Blues: Why Do Research Papers Get Rejected”, S.S. Khadilkar mengupas hal-hal yang melatarbelakangi ditolaknya artikel ilmiah oleh jurnal-jurnal internasional. Penyebab utama: poor language atau bahasa yang buruk.

Dari keseluruhan naskah akademik yang pernah saya garap sejak mulai menerjemahkan 16 tahun lalu, saya perkirakan bahwa yang bahasa dan muatannya bisa disebut baik berjumlah kurang dari lima persen. Yang cukup baik alias passable sekitar 10 hingga 15 persen. Selebihnya bermasalah dari sisi bahasa dan muatan ilmiah — dua hal yang sangat mendasar.

Kasus terparah saya hadapi ketika diminta mengedit satu artikel dari bidang Sastra Indonesia. Membaca kalimat pertama dari abstraknya, saya sudah bingung. Memasuki introduction, kepala saya mulai panas. Panjang naskah aslinya 16 halaman, tetapi introduction-nya thok berjumlah sembilan halaman, dengan pembahasan yang ngalor-ngidul tidak karuan. Kalimat-kalimatnya mengulang-ulang; kutipan-kutipannya kira-kira 70% salah. It was all over the place. Pendek kata, selain bahasanya sangat buruk, scientific content-nya pun sangat bermasalah. Pendek kata, proyek ini saya tolak.

Ketika suatu artikel hasil terjemahan dikembalikan oleh jurnal ilmiah dengan alasan poor language, saya perkirakan ada dua skenario utama. Skenario pertama: Bahasa naskah sumbernya memang buruk sejak awal, dan penerjemah tidak berhasil bekerja sama dengan penulis untuk memperbaikinya. Kemungkinan paling parah, penulis artikel hanya menggunakan Google Translate lantas mengirimkan hasilnya mentah-mentah ke jurnal target. Hasilnya: utter rejection. Setelah ditolak, ada kemungkinan artikel hasil terjemahan Google Translate tersebut diserahkan ke linguis untuk diedit. Linguis pun menyerah, sebagaimana saya menyerah menghadapi artikel bidang Sastra Indonesia tadi (saya berhasil mengungkap bahwa para penulisnya hanya mengandalkan machine translation, dan setelah saya meminta naskah asli, bahasanya memang acakadut).

Berangkat dari kasus nyata tersebut, saya perlu menegaskan: Machine translation tools seperti Google Translate tidak akan pernah menyamai kedalaman socio-linguistic dan kepekaan budaya penerjemah-penerjemah dari kalangan manusia. Akal budi ciptaan Allah SubhanaHu wa Ta’ala tidak akan pernah ditandingi oleh teknologi ambisius manusia sampai kapan pun. Machine translation tools hanya dapat membantu proses penerjemahan di tahap awal, tetapi tidak mungkin dan tidak boleh diterima sebagai hasil akhir.

Namun, pertanyaan atau tantangannya: Seberapa baik bekal socio-linguistics dan kepekaan budaya kita sebagai penerjemah untuk dapat menundukkan machine translations?

Katakanlah penerjemah dihadapkan pada frasa “keluarga lansia” dalam satu artikel ilmiah. Apa padanan yang tepat? Google Translate menerjemahkannya menjadi “elderly family”. Penerjemah semestinya bertanya: Apa konteksnya? Ternyata tidak ada penjelasan apa pun dalam artikel karena frasa tersebut hanya muncul satu kali, yakni dalam kalimat: “Di RW ini terdapat 50 keluarga, termasuk 13 keluarga lansia.” Penerjemah pun bertanya kepada penulis: Apa yang Anda maksud dengan frasa ini? Menurut penulis, “keluarga lansia” adalah keluarga yang hanya terdiri dari lansia. Dengan kata lain, menurutnya, “keluarga lansia” adalah satu keluarga yang isinya lansia semua, entah itu satu orang, dua orang, atau lebih dari dua orang. Penerjemah pun mengecek alternatif “senior household” dan menemukan ada lembaga internasional yang mendefinisikan “senior household” sebagai keluarga yang terdiri dari setidaknya satu orang lansia. Artinya, boleh ada anggota keluarga lain di dalam senior household yang tidak masuk kategori lansia.

Bagaimana mengatasi ketimpangan definisi tersebut? Adakah alternatif lain? “Elderly household”, misalnya? Apakah “senior household” dan “elderly household” interchangeable? Perlukah penerjemah menyarankan kepada penulis untuk mencantumkan definisi “keluarga lansia” yang dia maksud dalam artikelnya, supaya lebih jelas? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memang seharusnya berkecamuk dalam pikiran seorang penerjemah ketika dihadapkan pada satu istilah yang terbaca generic, tetapi terjemahannya harus specific. Dilema semacam ini tidak akan menemukan solusi lewat Google Translate, melainkan harus diserahkan kepada penerjemah yang cukup sensitif — secara sosiolinguistik maupun kultural — untuk dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan guna menentukan pilihan yang tepat.

Skenario kedua: Bahasa buruk dalam artikel yang ditolak dihasilkan oleh penerjemah yang memang kurang mumpuni, padahal bahasa naskah aslinya sudah bagus. Sayangnya, penulis sendiri tidak menyadari buruknya hasil terjemahan tersebut karena ia tidak mahir berbahasa Inggris.

Pada skenario pertama, kesalahan ada di pihak penulis. Cukup sering saya dengar, ketika penerjemah menawarkan diri untuk memperbaiki bahasa dalam naskah asli, bahkan menunjukkan kesalahan-kesalahan data, penulisnya justru bilang, “Sudah, terjemahkan saja apa adanya.” Lebih pelik lagi jika penerjemah tidak bisa melakukan kontak langsung dengan penulis karena, misalnya, proyek datang dari agency. Perbaikan-perbaikan terhadap naskah asli akan terhambat apabila proses konsultasi harus berlangsung lewat orang tengah, biasanya project manager.

Sebaliknya, pada skenario kedua, penerjemahlah yang patut disalahkan. Apabila sejak awal ia sadar tidak mampu menerjemahkan teks akademik secara umum, atau tidak mampu menerjemahkan artikel dengan topik yang teramat rumit, menolak proyek atau merekomendasikan penerjemah lain merupakan pilihan bijak. Sebab dalam menghasilkan terjemahan, penerjemah bertanggung jawab tidak hanya kepada penulis, tetapi juga kepada lingkup akademis yang nantinya akan membaca dan memanfaatkan teks hasil terjemahan. Bayangkan seorang penerjemah diminta menerjemahkan satu artikel kedokteran, dan ia salah menerjemahkan satu saja istilah di dalamnya. Kemudian editor jurnal target — karena satu dan lain hal — meloloskan kesalahan tersebut, hingga kekeliruan itu dikutip oleh peneliti-peneliti lain dalam karya tulis mereka. Betapa luas efeknya.

Saya sempat menonton dengan khidmat satu video rekaman webinar tentang penerjemahan akademik dengan Ardian Setiawan — salah satu penerjemah akademik kawakan Indonesia saat ini — sebagai pemateri. Saya mencatat satu poin penting dari video tersebut, yakni bahwasanya jurnal-jurnal yang menerbitkan artikel-artikel hasil penelitian bisa disebut sebagai suatu forum presentasi dan diskusi ilmiah. Lewat artikel-artikel mereka, para peneliti terlibat dalam diskusi ilmiah dengan melakukan pertukaran informasi berupa temuan-temuan baru, sanggahan-sanggahan atas temuan-temuan sebelumnya, hal-hal yang melengkapi temuan-temuan lain, saran-saran untuk penelitian-penelitian di masa mendatang, dan lain sebagainya. Para peneliti yang terlibat dalam diskusi ilmiah ini harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang mereka sampaikan, dan mau tidak mau, penerjemah ikut memikul tanggung jawab tersebut.

bersambung ke Bagian 3

3 responses to “Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 2)

  1. Pingback: Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 1) | Bekabuluh·

  2. Pingback: Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 3) | Bekabuluh·

  3. Pingback: MENJADI PENERJEMAH AKADEMIK — SUATU PENGANTAR (TAMAT) | Bekabuluh·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s