Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 1)

PARA penerjemah akademik yang andal insya-Allah senantiasa — bahkan bisa jadi akan makin — dibutuhkan oleh para peneliti, dosen, mahasiswa, serta lembaga-lembaga pendidikan, pemerintah, maupun nirlaba. Apa beda teks akademik dengan teks lain? Apa unsur-unsur teks akademik yang perlu dipahami oleh penerjemah? Adakah alur kerja dan alat bantu khusus yang digunakan oleh penerjemah akademik dalam menjalankan tugas? Sebagai pengantar, posting ini dibubuhi beberapa tautan bagi Anda yang ingin menyelam lebih dalam.

Anda membutuhkan jasa seorang penerjemah akademik? Hubungi Bekabuluh (Dalih Sembiring) melalui dlhbiring@gmail.com atau +62 812-6085-0859. Layanan di bidang ini meliputi — antara lain — penerjemahan dan/atau pengeditan manuskrip ilmiah untuk jurnal, tesis (skripsi, tesis, disertasi), abstrak tesis, proposal penelitian, laporan penelitian, dan berbagai dokumen (non-legal) institusi pendidikan. Kunjungi laman testimonial untuk melihat komentar beberapa klien setelah menggunakan layanan penerjemahan akademik dari Bekabuluh.

Tulisan ini disadur dari teks (yang saya siapkan selaku salah satu pemateri pada) kuliah terbuka daring yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada 18 Juni lalu.

Suatu Insentif

Academic translation adalah penerjemahan segala teks yang berkaitan dengan dunia akademik, seperti tesis (skripsi, tesis, dan disertasi), abstrak tesis, artikel ilmiah (untuk jurnal internasional), esai, proposal penelitian, naskah wawancara penelitian, catatan wawancara penelitian, naskah dan salindia presentasi akademik, formulir asesmen (disertasi, jurusan, fakultas, dll.), dan berbagai teks pedagogi serta pelatihan bidang pendidikan. Sebagai penafian, tulisan ini akan fokus pada penerjemahan akademik ke dalam bahasa Inggris.

Pernyataan pembuka bahwa penerjemah akademik senantiasa dibutuhkan, bahkan mungkin akan makin dibutuhkan, bukan tanpa alasan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2021 terdapat lebih dari 300.000 dosen dan hampir 9.000.000 mahasiswa di Indonesia. Terkait kebutuhan mereka akan jasa penerjemahan, pengeditan, dan pengujibacaan (proofreading) teks yang produk akhirnya berbahasa Inggris, izinkan saya untuk mengajak Anda berandai-andai…

Seperenam dari jumlah dosen dan mahasiswa tadi membutuhkan jasa penerjemahan, pengeditan, atau pengujibacaan per tahun. Angka seperenam dari jumlah dosen ini murni pengandaian dari saya, tetapi data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) menunjukkan bahwa tingkat kelulusan mahasiswa adalah sebesar 17% pada tahun 2020, sehingga bisa kita pastikan hampir seperenam dari jumlah mahasiswa di atas membutuhkan setidaknya jasa penerjemahan untuk abstrak skripsi, tesis, atau disertasi mereka ke dalam bahasa Inggris. Mempertimbangkan angka-angka tersebut, seperti tersaji pada slide di atas, potensi proyek penerjemahan, penyuntingan, dan pengujibacaan bagi linguis mencapai lebih dari 1,5 juta per tahun. Jika kita tambahkan teks-teks akademik di luar tesis, bolehlah kita bulatkan menjadi dua juta proyek per tahun.


Anda mencari penerjemah akademik? Hubungi Bekabuluh (Dalih Sembiring) melalui dlhbiring@gmail.com atau +62 812-6085-0859. Layanan di bidang ini meliputi penerjemahan dan/atau pengeditan artikel ilmiah, tesis (skripsi, tesis, disertasi), abstrak tesis, proposal penelitian, laporan penelitian, berbagai dokumen (non-legal) institusi pendidikan, dan sebagainya. Kunjungi laman testimoni untuk membaca komentar beberapa klien yang telah membuktikan kelebihan Bekabuluh dalam penerjemahan akademik dan penerjemahan di bidang lainnya.


Lantas, ada berapa banyak penerjemah di Indonesia? Terdapat lebih dari 9.000 orang yang tergabung dalam grup Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) di Facebook. Tentu tidak semuanya penerjemah (Indonesia–Inggris); sebagian mungkin baru ingin menjadi penerjemah atau sekadar tertarik dengan dunia penerjemahan. Jumlah anggota resmi HPI pun hanya sekitar 4.000 orang — I asked. Namun, kita sedang berandai-andai, dan untuk menunjukkan korelasi positif antara kebutuhan akan penerjemah akademik per tahun dengan jumlah penerjemah di Indonesia, saya memutuskan untuk mengambil angka tertinggi. Katakanlah 9.000 orang tadi semuanya mampu menggarap dua juta proyek penerjemahan, penyuntingan, dan pengujibacaan teks akademik yang produk akhirnya berbahasa Inggris dalam setahun. Dibagi rata, akan kita dapati bahwa tiap orang akan mengerjakan sekitar 222 proyek per tahun, atau kurang lebih 18 proyek per bulan.

Angka 18 proyek per bulan itu besar. Pengeditan satu disertasi dapat memakan waktu sebulan lebih, dan saya dapat menerjemahkan maksimal lima hingga enam artikel ilmiah per bulan.

Dari perhitungan (sangat) kasar di atas, muncul gambaran bahwa penerjemah yang bisa diandalkan untuk menggarap penerjemahan akademik tidak perlu khawatir kekurangan proyek — insya-Allah. Namun, kita garis bawahi satu hal: Kata kuncinya adalah “bisa diandalkan”. Klien yang akhirnya percaya dengan kemampuan seorang penerjemah tentu takkan ragu untuk terus menawarinya pekerjaan serta merekomendasikannya kepada berbagai pihak. AlhamdulilLah, ini sudah saya buktikan sendiri. Seorang rekan penerjemah bahkan pernah bilang bahwa dia sering harus menolak tawaran yang masuk karena jumlahnya terlalu banyak.

Sekarang, pertanyaannya adalah…

Siapakah Penerjemah Akademik Andal Itu?

What does it take to be a good academic translator? Apa saja syarat agar dapat memberikan hasil terbaik dan dipercaya oleh para klien yang membutuhkan jasa penerjemahan teks-teks akademik?

Sebagai syarat umum, untuk menjadi penerjemah yang baik, Anda haruslah seorang penulis yang baik. Anda mungkin tahu semua istilah dalam bahasa sumber dan padanannya dalam bahasa target, tetapi jika Anda kurang mahir merangkainya secara jelas, ringkas, dan menarik, besar kemungkinan terjemahan Anda akan mengecewakan. Sebab ketika menerjemahkan, Anda toh sedang menulis juga. Dan apalah artinya memindahkan isi pesan dari satu bahasa ke dalam bahasa lain jika hasilnya sulit dipahami oleh pembaca.

Hasil terjemahan bisa jadi akan sulit dipahami karena seorang penerjemah, misalnya, tidak paham di mana sepatutnya meletakkan subjek, objek, dan predikat; tidak paham mana induk kalimat, mana anak kalimat; tidak paham kapan harus menggunakan tanda baca yang satu dan bukan yang lain; tidak paham apakah suatu frasa bermakna harfiah atau idiomatis; atau masih gamang memotong-motong, menggabungkan, atau memindahkan frasa, kalimat, hingga paragraf agar lebih mudah dicerna.

Hal-hal tersebut masih berada pada tataran umum penulisan. Kita belum bicara soal menerjemahkan teks akademis yang sarat aturan. Apakah si penulis sudah menerapkan aturan yang baku terkait cara mengutip? Apakah kutipannya boleh langsung dituliskan di dalam paragraf, ataukah harus dipisah sebagai block citation? Apakah si penulis sudah memparafrasa kutipan dengan baik, ataukah kata-katanya masih terlalu mirip dengan teks dalam karya sumber sehingga berisiko dicap memplagiat? Kemudian, ketika menemukan kutipan-kutipan yang berpotensi dicap memplagiat, apa yang harus Anda lakukan sebagai penerjemah? Apakah membiarkannya karena memperbaikinya bukan tugas Anda, ataukah Anda akan berbaik hati memberitahu si penulis untuk melakukan penyesuaian? Mungkin Anda juga menyadari bahwa gaya tulis artikel yang ini terlalu informal, atau yang itu terlalu naif, entah karena kekurangan bukti pendukung atau karena kekurangan referensi. Bagaimana Anda memperbaikinya? Atau, selaku penerjemah, perlukah Anda memperbaikinya?

Maka sebagai syarat khusus, untuk menjadi seorang penerjemah akademik yang baik, seseorang harus menguasai serangkaian standar yang mengikat penyusunan teks akademik, khususnya teks-teks ilmiah berupa tesis maupun artikel untuk jurnal. Penerjemah akademik harus mampu menavigasi beragam standar yang diterapkan oleh institusi pendidikan atau jurnal internasional yang berbeda-beda. Unsur-unsur penyusun standar ini berupa format, terminologi, frasa-frasa, dan style atau gaya penulisan khas teks ilmiah. Misalnya, jurnal sastra punya standar yang berbeda dari jurnal psikologi. Dan jurnal sastra yang satu bisa jadi mengadopsi guideline yang berbeda dari jurnal sastra yang lain.

Di awal proses kerja sama dengan penerjemah, klien mungkin akan menyampaikan, “Oh iya, jurnalnya pake APA style ya. Tolong disesuaikan.” APA merupakan singkatan dari American Psychological Association, dan gaya selingkung atau style guide-nya diadopsi oleh banyak jurnal internasional. Selain APA, ada MLA style dari Modern Language Association, Chicago style yang dikembangkan oleh University of Chicago Press, dan style guides yang diterapkan oleh jurnal-jurnal ilmu eksakta seperti gaya selingkung AIP (American Institute of Physics), ACS (American Chemical Society), AMS (American Mathematical Society), dan banyak lagi.

Tiap gaya selingkung mengajukan aturannya sendiri-sendiri, dan dalam penulisan atau penerjemahan artikel ilmiah, pemakaiannya harus konsisten. Salindia di atas menyajikan contoh kecil terkait perbedaan style dalam penulisan full citation untuk terbitan berbentuk artikel jurnal — untuk buku, artikel website, dan lain-lain berbeda pula aturannya. Pada tiap guideline ada pula aturan-aturan tersendiri terkait in-text citation, paper format, mechanics of style seperti penggunaan tanda baca, ejaan, dan angka. Ada pula aturan-aturan terkait grammar hingga penggunaan bahasa yang tidak bias, misalnya tidak bias gender atau tidak menghina ras, suku, penyandang disabilitas, dan orientasi seksual.

Sampai di sini, Anda mungkin sudah berpikir, “Aduh, repot banget harus mempelajari berbagai style penulisan segala.”

Suka tidak suka, itulah salah satu tantangannya.

bersambung ke Bagian 2

3 responses to “Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 1)

  1. Pingback: Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 2) | Bekabuluh·

  2. Pingback: Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 3) | Bekabuluh·

  3. Pingback: MENJADI PENERJEMAH AKADEMIK — SUATU PENGANTAR (TAMAT) | Bekabuluh·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s