Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 3)

lanjutan Bagian 1 dan Bagian 2

Pernyataan terakhir pada bagian sebelumnya penting untuk dicamkan: Para peneliti yang terlibat dalam diskusi ilmiah lewat artikel-artikel yang diterbitkan di berbagai jurnal bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mereka sampaikan, dan mereka yang menerjemahkan artikel-artikel itu turut memikul tanggung jawab tersebut.

Maka kita kembali ke dua syarat yang telah saya sampaikan di awal: Untuk menjadi penerjemah yang baik, kita harus siap banyak belajar dan berlatih menjadi penulis yang baik. Penguasaan atas bahasa sumber dan bahasa target itu mutlak, dan kemampuan menulis yang baik itu penting. Kemudian, syarat khususnya, untuk menjadi penerjemah akademik yang baik, kita harus banyak-banyak mempelajari, mencerap, memahami, dan berlatih menerapkan berbagai konvensi atau standar yang berlaku di ranah penerbitan scientific articles. Formatnya seperti apa; strukturnya seperti apa; terminologi dan frasa-frasa yang umum dipakai untuk bidang tertentu seperti apa. Bagi yang niat belajar, bahan-bahannya berserakan di internet — gratis!

Di bawah ini saya sajikan beberapa situs berisi kiat-kiat serta konvensi penulisan teks akademik. Tautan-tautan ini saya kumpulkan dari video webinar penerjemahan akademik oleh Ardian Setiawan (silakan kunjungi channel YouTube-nya). Semua ini merupakan resources yang pasti berguna bagi mahasiswa yang akan menulis skripsi, tesis, atau disertasi, juga bagi para peneliti yang ingin menulis langsung dalam bahasa Inggris.

Salah satu yang esensial untuk dikunjungi dan dipelajari adalah situs Academic Phrasebank persembahan The University of Manchester. Dengan mempelajari frasa-frasa yang disajikan di situ, penerjemah dapat berlatih membiasakan diri menggunakannya agar tidak terjebak oleh bahasa dalam teks sumber, karena sudah ada frasa-frasa dalam bahasa Inggris ragam akademik yang lazim digunakan untuk menyampaikan maksud atau fungsi tertentu. Menguasai frasa-frasa tersebut merupakan salah satu modal besar bagi penerjemah untuk menghasilkan terjemahan berkualitas tinggi — berkualitas expert — terutama ketika dihadapkan pada naskah asli dengan kualitas bahasa yang bermasalah.

Poin yang menyebutkan bahwa jurnal-jurnal yang menerbitkan artikel-artikel hasil penelitian merupakan semacam forum presentasi dan diskusi ilmiah dipertegas oleh  D.J. de Solla Price dalam satu tulisannya, “Citation Measures of Hard Science, Soft Science, Technology, and Nonscience”. Di sana ia menyatakan, “Increasingly journals have become the forum for scientific research to be presented and discussed so that contributions can be evaluated. This has long been the case for the natural sciences, and is increasingly so for the social sciences” — jurnal telah menjadi forum bagi penelitian-penelitian ilmiah untuk disajikan sekaligus didiskusikan, tempat mengevaluasi kontribusi penelitian-penelitian tersebut, tidak hanya untuk ilmu-ilmu alam, tetapi juga ilmu-ilmu sosial yang kian diperhitungkan.

Sebagaimana telah saya sampaikan pula, lewat artikel-artikel mereka, para peneliti terlibat dalam diskusi ilmiah dengan melakukan pertukaran informasi berupa temuan-temuan baru, sanggahan-sanggahan atas temuan-temuan sebelumnya, hal-hal yang melengkapi temuan-temuan lain, saran-saran untuk penelitian-penelitian di masa mendatang, dan lain sebagainya. Terkait hal ini, dengan kemampuan mereka di bidang bahasa, khususnya bahasa ragam ilmiah, peran penerjemah tidak dapat diremehkan. Penerjemah turut membentuk dan mendorong berlangsungnya diskusi-diskusi ilmiah. Dalam konteks Indonesia, para penerjemah kita punya kontribusi penting dalam menyampaikan temuan-temuan para peneliti dalam negeri, terutama yang berkaitan dengan Indonesia, untuk diperhatikan dalam diskusi-diskusi ilmiah tingkat internasional. Hal lain yang layak diingat: Penerjemahan merupakan subjek penelitian tersendiri. Cukup banyak proyek penerjemahan saya yang membahas subjek ini.

Kembali lagi, semua ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Anda yang ingin menyelami lautan penerjemahan akademik.

Spesialisasi

Perlukah penerjemah melakukan spesialisasi?

Saya ingin menawarkan jawaban yang pragmatis. Dengan latar belakang bahasa dan sastra, saya biasanya berani untuk langsung menerima proyek-proyek penerjemahan terkait kedua ranah tersebut. Dan karena saya juga memiliki latar belakang jurnalistik, pernah bekerja di industri entertainment khususnya film, pernah pula mendalami bidang lingkungan hidup khususnya yang berhubungan dengan sustainability, serta cukup sering bersinggungan dengan dunia marketing termasuk periklanan, maka selama ini saya cukup bernyali untuk menerima proyek-proyek penerjemahan dari bidang-bidang tersebut. Pendek kata, saya banyak menerima proyek-proyek penerjemahan yang berhubungan dengan ranah sosial, politik, dan humaniora.

Ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa S1 — sampai saat ini pun masih bersatus lulusan S1 — artikel-artikel ilmiah yang paling awal sekali disodorkan kepada saya untuk diterjemahkan adalah artikel-artikel bidang politik dan hukum. Akan tetapi, kini, saya akan berpikir dua kali ketika ditawari untuk menerjemahkan artikel-artikel ilmiah bidang hukum. Begitu juga halnya dengan artikel-artikel ilmiah dari sebagian ilmu alam dan kedokteran — saya lebih memilih untuk merekomendasikan penerjemah lain. Alasan utamanya adalah time management. Waktu yang saya habiskan guna mempelajari topik-topik tertentu dari bidang hukum, sebagian ilmu alam, serta bidang kedokteran, untuk menerjemahkan satu artikel dapat saya gunakan untuk menerjemahkan dua artikel atau lebih yang terkait dengan ilmu-ilmu sosial, politik, dan humaniora. Manajemen waktu ini terefleksi dari jumlah kata yang bisa ditangani oleh seorang penerjemah per hari. Saya mematok kecepatan penerjemahan antara 1.500 sampai 2.000 kata dalam sehari. Lebih banyak jika topiknya familiar, dan lebih sedikit jika subject matter-nya rumit. Ini belum termasuk waktu yang diperlukan untuk mempelajari isi, terminologi, author guidelines, dan lain sebagainya.

Saya pribadi percaya bahwa mereka yang menguasai seluk-beluk bahasa sumber dan bahasa target mampu menerjemahkan teks ilmiah bidang apa pun. Sebab, pada dasarnya penulisan dan penerjemahan adalah perihal komunikasi, apa pun bidang dan materi yang disodorkan. Sangat mungkin terjadi, seorang peneliti bidang kedokteran, misalnya, menulis artikel medis dengan kualitas tulisan yang bermasalah atau biasa-biasa saja, tetapi artikel itu lantas menjadi jauh lebih baik di tangan penerjemah yang tidak berspesialisasi di bidang medis. Alasannya? Penerjemah tersebut terbiasa mempelajari dahulu segala istilah, frasa, dan metode yang terkandung dalam suatu artikel guna mengomunikasikan isinya dalam bahasa target dengan authorial voice yang mantap.

Poin akses komunikasi dengan penulis pada slide di atas sudah saya bahas sebelumnya. Lantas terdapat poin “akses ke berbagai referensi”. Ini penting ketika penerjemah menerima proyek penerjemahan artikel dari ranah yang tidak ia akrabi. Penerjemah dapat meminta bahan-bahan referensi berformat Word Document atau PDF yang telah digunakan penulis dalam menghasilkan naskahnya. Referensi berbentuk buku lebih pelik untuk diminta atau dipinjam, meski penerjemah dapat mencoba mengunduhnya dari internet jika sifatnya open source. Kadang ada pula bagian-bagian atau halaman-halaman dari buku rujukan yang bisa diakses di Google Books. You know the gist.

Termasuk dalam referensi adalah artikel-artikel yang sudah diterbitkan di jurnal yang menjadi target penerbitan. Dengan mempelajarinya, penerjemah mendapatkan gambaran konkret akan konvensi terkait format, style, dan lain-lain yang disyaratkan jurnal target guna diterapkan dalam teks yang akan diterjemahkan.

Poin terakhir pada slide di atas memang tidak wajib dipenuhi, karena komunikasi yang baik dengan penulis semestinya sudah cukup. Akan tetapi, akan sangat membantu apabila penerjemah dapat mengontak orang-orang yang bisa dibilang ahli di bidang yang relevan dengan teks yang akan atau sedang ia terjemahkan. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan terhambat dalam menggarap terjemahan karena ada bagian-bagian dalam teks yang tidak masuk akal, sementara penulis pun geragapan menjelaskannya. Penerjemah pun perlu menjalin hubungan baik dengan penerjemah-penerjemah lain yang berspesialisasi di bidang-bidang tertentu. Kadang saya mengirim pesan WhatsApp ke satu grup penerjemah, atau menghubungi penerjemah tertentu, ketika sudah benar-benar stuck. Ada pula kalanya penerjemah lain menghubungi saya untuk menanyakan padanan yang tepat untuk istilah tertentu. AlhamdulilLah, komunitas penerjemah di Indonesia bisa dibilang sangat suportif satu sama lain.

bersambung ke Bagian Akhir

2 responses to “Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 3)

  1. Pingback: Menjadi Penerjemah Akademik — Suatu Pengantar (Bag. 2) | Bekabuluh·

  2. Pingback: MENJADI PENERJEMAH AKADEMIK — SUATU PENGANTAR (TAMAT) | Bekabuluh·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s